Pendidikan karakter berbasis 5 S

Pendidikan karakter berbasis 5 S

Pendidikan karakter berbasis 5 S merupakan ungkapan yang sederhana namun realitanya banyak kendala dalam menerapkannya. Namun hal ini tentu bukan halangan yang berarti untuk terus maju. Indonesia bangkit dalam prestasi dan karakter untuk siap bersaing di dunia global. Prestasi dan karakter yang kuat harus senantiasa selalu berdampingan, agar potensi peserta didik bisa dipertanggungjawabkan

Pendidikan karakter berbasis 5 S, saat ini memang sedang digalakkan dengan tujuan menjaga eksistensi karakter ketimuran bangsa Indonesia. Pada dasarnya pendidikan karakter bisa diartikan sebagai kegiatan mendidik untuk generasi berikutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah mentranformasikan karakter bangsa agar tidak luntur diakan jaman.

Baca Juga: Memahami Basic Manners atau Tata Krama Dasar

Hal ini sejalan dengan yang telah disampaikan oleh Soekarno yang menerapkannya sebagai bentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter sehingga identitasnya tetap terjaga. Pendidikan karakter untuk peserta didik menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan menumbuhkannya dengan subur. Tentu saja ini tergantung dari lingkungan dimana peserta didik itu berada.

Iingkungan yang berkarakter akan menjadikan peserta didik tubuh dengan baik. Dalam sosiaisasi peserta didik seusia SMA masuk daam tahap game stage, dimana mereka telah memahami status dan peran masyarakat disekitarnya. lingkungan menjadi wadah yang penting untuk membentuk karakter yang sesuai harapan maka penciptaan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan mereka sangatah diperlukan.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang merupakan agen sekunder sosialisasi juga sangat menentukan terbentuknya karakter generasi berikutnya. Pendidikan karakter menjadi penting karena dengan menjadi pribadi yang berkarakter maka seorang akan mmengetahui batasan mana yang boleh diakukan dan tidak dilakukan sehingga kontrol terhadap diri menjadi kuat.

Dalam rangka menerapkan pendidikan karakter banyak sekolah menerapkan jargon lima “S” yang meiputi Senyum, Sapa, Salam, Salim dan Santun. Namun kebanyakan hanya menjadikannya sebagai jargon belaka tanpa realita. Jargon lima “S” ini jika diterapkan secara optimal maka akan menumbuhkan karakter yang kuat sebagai orang yang beradap dalam menjaga budaya ketimuran yang menjadi karakter bangsa Indonesia

Praktik lima “S” pada dasarnya sederhana namun menunjukkan ketulusan bagi orang yang terlibat didalamnya. Secara psikologis antara ekpresi dan gerak tubuh harusnya dalam garis ketulusan yang sama. Hal ini dilakukan agar pesan karakter yang ingin disapaikan dapat direspon dengan baik oleh yang menerianya

Dalam hal ini agen pembentuk karakter adalah guru dan karyawan sekolah yang terlibat langsung dalam proses pendidikan perserta didik.  Penerapan lima “S” secara maksimal mebutuhkan berberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, guru dan karyawan harus mengenal dan hafal nama dari peseta didik. Pepatah yang seringg kita dengar bahwa “tak kenal maka tak sayang” ini memiliki makna yang dalam, bahwa dengan mengenal minimal nama akan menumbuhkan cinta yang lebih ketika berjumpa.

Kedua, guru dan karyawan ketika berada diingkungan sekolah memang harus total dalam mendidik. Totaitas inilah yang menjadikan peserta didik merasa seperti dirumah. Keberadaanya sama dengan orang tua (guru) beserta saudara (teman-teman). Hal ini akan menumbuhkan kenyamanan, serta lingkungan sosialisasi yang tepat untuk pendidikan karakter.

Pada umumnya banyak guru dan karyawan sekoah yang menghafal peserta didik hanya karena anak itu paling pandai, peringkat kelas, nakal, cantik dan tampan sehingga anak yang berada dalam tataran rata-rata baik secara prestasi dan fisik menjadi tidak dikenal. Kondisi ini menjadikan anak secara psikologis tersisih.

Berdasarkan pengalaman ketika guru mengenal minimal hafal nama ketika menyapa maka anak akan merasa dihargai karena keberadaannya diakui mamang sulit menghafal siswa yang jumahnya mencapai ribuan namun ketika ada niat yang kuat dilandasi ibadah untuk membentuk karakter yang baik bagi generasi berikutnya maka hal ini akan mudah dilakukan.

Fungsi lima “S” ini harus dimaksimalkan, caranya adalah ketika bertemu dengan peserta didik maka Sapa bisa diawali dengan menyebutkan nama mereka dengan benar. Inilah kunci sapaan pertama yang memberi kesan bahwa mmereka dihargai. Baru setelah itu mengucapkan salam baik Assalamualaikaum, selamat pagi ataupun good Morning. Contohnya “ Renza, assalamuallaikum..” kata-kata ini akan menghantarkan motivasi yang besar bagi peserta didik untuk selalu tampil terbaik dihadapan guru dan semuanya karena ia telah dikena. Berbeda ketika guru tidak mengenanya maka ia akan tampil menjadi generasi yang tidak perduli terhadap image dirinya dan lingkungan.

Tahap seanjutnya setelah salam adalah menyertai salam itu dengan senyum yang tulus agar cinta yang kita pancarkan sampai dan mempengaruhi mereka untuk lebih positif. Jika tiga tahap ini dilakukan dengan benar maka respon mereka adalah langsung yaitu dengan mengulurkan tangan untuk Salim dengan Santun.

Praktek lima “S” ini memang sangat sederhana namun jika ini dilakukan dengan optimal maka dampaknya akan baik bagi perkembangan karakter peserta didik generasi berikutnya adalah tanggung jawab kita bersama demi eksistensi kita dimasa yang akan datang. Berjayalah Indonesiaku.

Related articles

Perpustakaan Keliling bikin mudah

Perpustakaan Keliling bikin mudah para pengemar membaca

Perpustakaan Keliling bikin mudah para pecinta literasi mengupdate informasi. Tidak sedikit orang yang gemar membaca, entah itu buku fiksi atau non fiksi atau ensiklopedia sekalipun. Dari usia kecil sampai kakek nenek pasti masih kita temui orang yang gemar membaca. Ada yang membaca karena hobby ataupun ada yang membaca karena kebutuhan. Selera membaca seseorang berbeda-beda, ada […]

Tips Sehat Bermain Game

Tips Sehat Bermain Game

Bermain game adalah aktifitas yang menyenangkan. Namun anda harus tahu Tips Sehat Bermain Game. Tidak peduli berapa usia anda kesehatan adalah utama. Semua orang tahu bahwa bermain game nyatanya sangat menghibur. Tentu saja hiburan ini harus didukung oleh situasi, kondisi dan tempat yang nyaman agar manfaat game benar-benar didapatkan. Lingkungan yang tidak mendukung akan berdapak  […]